KOMPAS PART 4
Kompas ini rusak, tak bisa
membawa ku pulang…
Kompas ini tak dapat
berfungsi dengan baik, tak dapat menunjukkan arah mata angin dengan tepat…
Ya begitulah aku saat ini,
seperti kompas ini …
Dulu aku baik baik saja,
bahagia senang menikmati hidup dengan penuh harapan layaknya anak muda yang
disandung asmara…
Banyak mimpi yang ku
rancang, bahkan karir ini mengajakku melangkah lebih jauh mendekati kemapanan.
Seketika kekecewaan
merangkulku dalam posisi roda hidupku di atas, semua berubah berbeda menjadi
cerita yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.
Hati ku dipatahkan nya,
sampai kuharus ikhlas melepaskan nya pada yang lebih bisa menjaga senyum nya
untuk ikrar kebahagiaan.
6 tahun dia bintangku, dia
tujuan hidupku sampai pada akhirnya bintang itu meredup menghilang dalam langit
malam yang tak kunjung datang lagi. Bintang yang tak mungkin ku raih lagi.
Walau masih dilangit yang sama cahaya kemilau nya tak lagi terpancar melekat
dalam pandanganku.
Hatiku dingin, hidupku
hambar, karir ku merosot, ku menjadi pribadi yang tidak menyenangkan.
Masuk kedalam dunia kelam,
menikmati masa masa bodoh seketika saat hati ini masih merasakan sakitnya
kecewa yang dia tinggalkan.
7 bulan terperosok dalam
dunia metropolitan, tersesat, terjerumus, terjebak dengan cinta lama. Tidak
bergerak hanya berputar terus mengenang bintangku. Namun kenyataan nya
bintangku tak bersamaku lagi. Masih saja dibutakan hanya dia yang terindah dan
tak tergantikan.
Ingin memulai tapi tetap tak
sama, sudah menjalani dengan hati baru tapi tak senyaman dulu. Rasa takut untuk
ditinggalkan masih saja datang membayangi pikiran ini.
Masih saja seperti orang
yang putus asa, menjauh dari keramaian tak bersosialisasi, menjadi pribadi yang
temperamental, tersesat dalam dunia nyata, kecewa itu masih besar tinggal dalam bagian hidup ini.
Hingga harus menahan
cemoohan karena jatuhnya karirku, diremehkan karena tidak setia, semangat pun
sudah tidak lagi sama seperti dulu karena tak ada lagi tujuan.
Hancur, hidup ini
monoton……membosankan….
Semuanya menyebalkan, ku
nikmati hidup sendiri ini dengan caraku yang selalu mengundang decak heran dari
lingkungan sekitarku.
Terlanjur dinilai negative,
ujarku.
Entah sampai kapan, rasanya
hidup ini seperti tak berguna untuk siapapun.
Keadaan ini yang terus
membuat ku berputar putar seperti kompas rusak, tak bisa memutuskan kemana
harus memulai membenahi hidup ini.
Suatu saat aku merasakan
titik jenuh dimana keadaan ini semakin merusak hidup ku, seorang temanku
memandangiku tak lepas dengan tatapan penasaran.
Maura : kamu sedang
berusaha melupakan sesuatu ya ?
Rovi : ( aku hanya menatap sinis pada pertanyaan nya )
Maura : gausah jawab juga aku sudah tau jawaban nya (
tersenyum manja )
Tanpa aku gubris pertanyaan
nya aku melanjutkan bercanda dengan teman teman perkumpulan ku.
Tak pernah peduli apa
komentar orang lain, yang penting aku berusaha bahagia dengan caraku sendiri
walaupun memang salah.
Beberapa hari kemudian, aku
bertemu lagi dengan perempuan ini tapi bukan di tempat perkumpulan club motor
ku.
Dia sedang duduk sendiri di
sebuah taman kota, entah sedang menunggu seseorang atau mungkin memang sedang
merehat lelah.
Dengan niat hanya ingin
menyapa, aku pun menghampiri nya…
Rovi : Hai, lagi apa ? ko kamu nangis sih ? kamu kenapa ?
Maura : ( menoleh dengan mimik kaget ) Hai , ko ada di sini …
sama siapa ?
Rovi : Jawab dulu kamu kenapa, ditempat kayak
gini nangis sendirian …. Aku
pikir kamu lagi nunggu seseorang, aku tadi
habis pulang dari rumah
temen kebetulan lewat sini lihat kamu ,
yaudah aku sapa dulu …
Maura : ( menengadahkan
kepala keatas, menahan airmata )ohh ujarnya tanpa
banyak basa basi
Rovi : ( tertawa ) masa bikers nangis sindirnya ke Maura sambil
mengusap
kepala nya
Maura : ( menolak tangan nya
) apaan sih, gak perlu sok peduli gitu deh..
Rovi : yaudah iya, terserah kamu aja, susah emang ngomong sama cewek
yg
PMS
Sontak
aku pun terdiam. Beberapa menit kita tanpa percakapan apapun. Aku pikir dia sedang
patah hati. Jadi aku biarkan saja dia nangis tanpa berkata apapun hanya duduk
saja disebelahnya. Namun Ada hal yang membuat akupun penasaran dengan dirinya.
Rovi : Kadang kita harus rela melepaskan apa yang bukan menjadi milik kita,
harapan
yang sebelumnya jauh terancang indah namun seketika hancur
karena satu keadaan ( menengadah ke langit
sambil menghela nafas
dalam dalam )
Maura : Maksudnya ? ( menoleh ke arah rovi dengan
wajah sinis )
Rovi : Jelas tergambar dalam kedua matamu
( Jawab
nya sambil tersenyum menatap Maura )
Maura : Mata ini bisa saja berbohong, tak ada jawaban apapun
dari hanya
sekedar bertatap mata, sebaiknya tinggalkan
aku sendiri disini ( ujar nya
ketus menyandarkan
kepalanya dibangku taman sambil menengadah ke
langit )
Rovi : Aku pun butuh teman untuk bersandar, maaf jika dengan
kehadiranku
disini
membuatmu tak nyaman ( bergegas pergi )
Dasar
perempuan aneh gumam ku. Biasanya kan cewek kalo lagi sedih begitu suka nya
diperhatikan dihibur dimanja, ini malah ngusir. aku pun beranjak pergi dari
taman itu dan saat ku mulai menyalakan motor, tiba-tiba saja cewek itu berlari
dan berteriak ke arah ku.
Maura : Hey….. tunggu !!!!
Rovi : “ Kenapa ? aku buru buru nih, udah mendung … “ jawab ku kesal
Maura : “ aku ikut kamu ya, please …. “
Rovi : “ Maksudnya ? terus motor kamu mana ? “
Tanpa
banyak berkata, dia pun sudah duduk di motor
ku dan menepuk pundak ku untuk segera bergegas menjalankan motornya.
Sepanjang perjalanan pun dia hanya diam, aku tanyakan dimana rumahnya tak
menjawab, hanya berputar putar saja diperjalanan. Tak lama kemudian rintik
hujan pun turun, aku menepikan motorku ke sebuah halte untuk berteduh. Kita
berdua masih berdiam tak berbicara duduk sambil menunggu hujan nya reda.
Saat
itu tepat pukul 17.12 WIB ku lihat jam pada ponsel ku yang hampir lowbat. Tidak
terasa sudah 1 jam kita diam di halte tanpa percakapan, sedangkan dia sibuk
mengulik ponsel nya seperti sedang membalas sebuah pesan singkat penting,
dengan mimik wajah mungilnya yang serius dan kesal mengerutkan dahi. Kita
memang baru saja kenal, jadi masih sedikit canggung untuk saling berbicara. Aku
mengenalnya karena dia salah satu teman dekat dari teman seperkumpulan club
motor ku. Selang beberapa menit kemudian ponsel nya berdering dan sudah
beberapa kali dia tak menjawab, aku pun menyarankan untuk menjawab telepon nya.
Saat dia menjawab telepon nya dia hanya mengatakan “ MAAF, IYA KAMU BENAR “ dan
langsung mematikan telepon nya, menunduk meneteskan airmata di atas ponselnya.
Rovi : Jujur aku bingung lihat sikap kamu yang seperti ini
Maura : Aku kan gak pernah minta kamu untuk mengerti keadaan
atau sikap aku.
( beranjak
mendekat ke tepian halte sambil memainkan air hujan dengan
tangan kecil nya )
Rovi : “ Dasar ANEH !!! “ sindir ku dengan Kesal
Maura : Karena kamu tidak mengenalku dengan baik, maka nya kamu
menilaiku
aneh ( membalas sindiran ku dengan ciri khas
senyuman manis lesung di
pipi
kanan nya )
Rovi : Setidaknya kamu bisa sedikit berbagi masalahmu dengan ku, tidak
dengan diam begini. Membuat aku bingung saja.
Maura : Maaf, aku tidak terbiasa untuk menceritakan masalahku
dengan orang
yang baru ku kenal.
Rovi : Yaudah, kamu mau ku antar kemana ?
Maura : Aku pulang sendiri saja, terimakasih untuk tumpangan
nya ya ..
( lagi lagi dia menjawab
dengan nada lembut sambil tersenyum dan
melangkah pergi dalam gerimis )
Mencegah pun sebenarnya tak ada hak, karena ku masih di
anggapkan seseorang yang asing, tapi ya sudahlah memang keinginan nya dari awal
untuk menikmati masalah nya hanya dengan hujan. Aku pun hanya bermalas-malasan
tak beranjak dari halte, angin berhembus sangat kencang, melihat perempuan itu
berjalan ditengah rintik hujan, dengan kemeja tipis biru dongker dan blue
jeans, sepatu converse abu-abu di kaki kecilnya melangkahkan perlahan menikmati
hembusan angin bersama gerimis hujan menengadahkan kepala nya ke langit
menyentuhkan wajah nya dengan tetesan hujan, rambut nya sebahu yang mulai
basah, dia amat menikmati nya…
Mobil dan motor pun berlalu lalang tak dihiraukan nya,
bermain meraih hujan dengan tangan nya. apa yang sebenarnya dia rasakan saat
ini ? aku pun rumit, tapi mengapa aku tak bisa sebegitu mudah nya menghibur
diri dengan hal yang sederhana. Aku pun masih terlarut dengan masalah ku
sendiri, tanpa ku sadari perempuan itu tlah jauh tak terlihat dari pandangan
ku.
Sempat ku ingin mengenal nya lebih dekat. Rasa penasaran
ku mengajak ku untuk bergegas menyusulnya. Karena langitpun semakin gelap, ku
menyalakan motor dan berharap masih bisa bertemu lagi dengan perempuan ini.
Sign ( 28 Juli 2016 ) #putritosca
Sign ( 28 Juli 2016 ) #putritosca
To be Continue .........
Komentar
Posting Komentar